Anggota Rohis

Dengan Penuh semangat semoga kita semua dapat menjalankan amanah dan tanggung jawab pada Rohis SMA N 1 Demak dengan sebaik-baiknya,
@ROHIS 2011-2012. :)

Idul Adha

Alhamdulillah 2 kerbau dan 1 kambing berhasil di sembelih dan di bagikan kepada warga oleh Rohis SMA N 1 Demak,
Pada Tanggal 10 Dzulhijjah 1433 H/ 6 Nopember 2011.

Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di selenggarakan di mushola pada tanggal 12 rabiul awal.
Acara ini diikuti oleh anak ROHIS dan sebagian siswa - siswi SMA N 1 Demak. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. :)

ROHIS Angkatan 2009-2010

Walaupun badan ini terpisahkan oleh tempat tapi kami tetap akan bersama dalam Perjuangan.

This is featured post 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Memperbaiki Rasa Malu

0 komentar

Memperbaiki Rasa Malu
Memperbaiki Rasa Malu - Manusia memiliki sifat malu yang dapat menggerakkan nalurinya, menilai mana yang benar dan salah. Dengan rasa malu itu, setiap manusia berjalan di atas ketetapan fitrah dari Rabbnya.

Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu tak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu."  Beliau juga mengatakan bahwa salah satu dari bagian iman adalah sifat malu.

Jika manusia dibekali malu untuk hidup, lain halnya dengan binatang. Allah memberikan nikmat kepada binatang sesuai dengan kebutuhannya. Hewan hanya memiliki insting dipadu dengan nafsu untuk hidup.

Ia tak butuh malu karena memang Allah tidak memberikan sifat itu. Begitulah Allah telah mengatur hamba-Nya untuk menjalani hidup di alam fana ini.

Malu dapat menjamin kualitas batin manusia. Karena itu, manusia tak pernah terpisahkan dengan sifat malu dan malu selalu berkaitan erat dengan ketebalan iman seseorang terhadap Rabb-nya.

Sebagian besar sahabat Rasulullah SAW menjaga dan mengedepankan rasa malunya di atas kepentingan duniawi mereka. Usman RA, misalnya, dia adalah sahabat yang paling besar sifat malunya hingga Nabi SAW pun sangat menghormatinya.

Di masa hidupnya, Rasul pernah berbaring di pangkuan istrinya, lalu datang Abu Bakar RA sedang bagian tubuhnya terbuka, tetapi nabi membiarkan hingga datang sahabat Umar RA. Akan tetapi, ketika datang Usman RA, Rasulullah dengan serta-merta merapikan pakaiannya agar tak terlihat olehnya.

Ketika ditanya istrinya mengapa berbuat demikian kepada Usman dan tidak kepada Abu Bakar dan Umar, Nabi menjawab bahwa Usman sangat pemalu. Di lain waktu, nabi pun menyanjung keistimewaan Usman di hadapan para sahabat beliau. Usman terhormat karena menjaga malu yang melebihi malunya seorang gadis.

Kekuatan iman seorang Muslim dapat dilihat dari sifat malu dalam dirinya. Seorang Muslim hakiki akan menjaga dirinya dengan benteng malu terhadap Tuhannya bila berbuat dosa.

Ia akan menaati semua perintah-Nya sekuat tenaga. Ia akan sangat menyesal, merasa bersalah dan malu kepada Rabbnya jika meninggalkan satu saja syariat-Nya. Begitulah ciri kehidupan seorang Muslim yang teguh hati menjaga malunya.

Sebagaimana diterangkan Rasulullah SAW, seorang Muslim yang tidak punya rasa malu sama sekali, dipersilakan  berbuat sesuka hatinya. Mereka telah terlepas dari tali umat Muhammad yang menghormati kalam Allah dan sabda beliau, mereka akan dikirim ke dalam azab-Nya yang pedih dan menyakitkan, kehinaan mereka peroleh di dunia dan siksaan mereka terima di neraka.

Dunia seakan telah mejadi rumah abadi bagi manusia-manusia rakus dan pengekor hawa nafsu. Mereka tak lagi memikirkan siapa Rabb-nya dan apa saja perintah serta larangannya.

Harta, tahta, dan wanita memang tombak serang setan untuk menyerang manusia. Maka dari itu, mari kita hargai diri dengan menjaga sifat malu sebagai fitrah manusia. Wallahu a'lam.

http://www.republika.co.id

Akhlak Seorang Muslim Terhadap Diri Sendiri

0 komentar

Akhlak Seorang Muslim Terhadap Diri Sendiri
Akhlak Seorang Muslim Terhadap Diri Sendiri - Yang dimaksud dengan akhlak terhadap diri sendiri adalah sikap seseorang terhadap diri pribadinya baik itu jasmani sifatnya atau ruhani. Kita harus adil dalam memperlakukan diri kita, dan jangan pernah memaksa diri kita untuk melakukan sesuatu yang tidak baik atau bahkan membahayakan jiwa.

Sesuatu yang membahayakan jiwa bisa bersifat fisik atau psikis. Misalnya kita melakukan hal-hal yang bisa membuat tubuh kita menderita. Seperti; terlalu banyak bergadang, sehingga daya tahan tubuh berkurang, merokok, yang dapat menyebabkan paru-paru kita rusak, mengkonsumsi obat terlarang dan minuman keras yang dapat membahyakan jantung dan otak kita. Untuk itu kita harus bisa bersikap atau beraklak baik terhadap tubuh kita.

Selain itu sesuatu yang dapat membahayakan diri kita itu bisa bersifat psikis. Misalkan iri, dengki, munafik dan lain sebagainya. Hal itu semua dapat membahayakan jiwa kita (red- bukan nyawa) semua itu merupaan penyakit hati yang harus kita hindari. Hati yang berpenyakit seperti iri dengki munafiq dan lain sebagainya akan sulit sekali menerima kebenaran, karena hati tidak hanya menjadi tempat kebenaran, dan iman, tetapi hati juga bisa berubah menjadi tempat kejahatan dan kekufuran.

Untuk menghindari hal tersebut di atas maka kita dituntut untuk mengenali berbagai macam penyakit hati yang dapat merubah hati kita, yang tadinya merupakan tempat kebaikan dan keimanan menjadi tempat keburukan dan kekufuran.

Seperti yang telah dikatakan bahwa diantara penyakit hati adalah iri dengki dan munafik. Maka kita harus mengenali penyakit hati tersebut.

Dengki. Orang pendeki adalah orang yang paling rugi. Ia tidak mendapatkan apapun dari sifat buruknya itu. Bahkan pahala kebaikan yang dimilikinya akan terhapus. Islam tidak membenarkan kedengkian. Rasulullah bersabda: "Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, "hati-hatilah pada kedengkian kaerena kedengkian menghapuskan kebajikan, seperti api yang melahap minyak." (H.R. Abu Dawud)
Munafiq. Orang munafiq adalah orang yang berpura-pura atau ingkar. Apa yang mereka ucapkan tidak sama dengan apa yang ada di hati dan tindakannya. Adapun tanda-tanda orang munafiq ada tiga. Hal ini dijelaskan dalam hadits, yaitu:

Dari Abu hurairoh r.a. Rasulullah berkata: " tanda-tanda orang munafiq ada tiga, jika ia berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanat ia berkhianat." (H.R. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan an-Nisa'i)

wallahu'alam

Pemimpin Muda

0 komentar

Pemimpin Muda
Pemimpin Muda - Pada tahun ke-11 hijriyah, Nabi Muhammad SAW membentuk pasukan untuk memerangi balatentara Romawi.

Sahabat-sahabaat senior seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Saad bin Abi Waqqas dan Abu Ubaidah bin Jarrah, masuk dalam pasukan tersebut.

Para sahabat menanti, siapakah yang akan diangkat Rasulullah memimpin pasukan itu. Abu Bakar dan Umar, lebih sering menjadi tangan kanan Rasulullah. Barangkali Nabi akan menunjuk Saad atau Abu Ubaidah.

Siapapun diantara kedua sahabat itu adalah orang yang dikenal tangkas dan cakap berperang. Di luar dugaan, Nabi SAW justru memilih Usamah bin Zaid yang ketika itu baru berumur 18 tahun. Masih sangat muda.

Usamah lahir tujuh tahun sebelum hijrah. Bapaknya orang yang sangat disayangi Nabi, yaitu Zaid bin Haritsah, yang pernah diangkat anak oleh Nabi, sebelum dilarang oleh Allah SWT.

Usamah sebaya dengan Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Bila Hasan duduk di paha Nabi yang sebelah kanan, maka Usamah diletakkan di paha sebelah kiri. Rasul sering berdoa untuk keduanya. “Ya Allah, saya menyayangi kedua anak ini, maka sayangi pulalah mereka.”

Itulah Usamah bin Zaid, anak muda yang dipercaya Rasulullah menjadi pemimpin pasukan. Rasulullah memerintahkan kepada Usamah, kalau sudah berangkat nanti agar berhenti di Balqa' dan Qal'atud Darum dekat Gaza, yang waktu itu masuk wilayah kekuasan Romawi Timur.

Sayang, tatkala bersiap-siap untuk berangkat, Rasulullah sakit, semakin hari sakitnya bertambah berat. Akibatnya, keberangkatan pasukan ditunda. Tidak berapa lama kemudian Rasulullah SAW wafat.

Khalifah Abu Bakar, memerintahkan pasukan Usamah segera berangkat melaksanakan perintah Rasulullah. Tetapi sekelompok kaum Anshar, menghendaki agar pemberangkatan pasukan ditangguhkan. Mereka meminta Umar bin Khattab yang menyampaikan usul itu kepada Abu Bakar.

“Jika Khalifah bersikeras tetap meneruskan mengirim pasukan, kami mengusulkan sebaiknya panglimanya diganti yang lebih senior dan berpengalaman.”

Usul itu ditolak Abu Bakar dengan tegas: “Hai putra Khattab, Rasulullah telah mengangkat Usamah. Engkau tahu itu. Kini engkau menyuruhku membatalkan putusan Rasulullah. Demi Allah, tidak akan aku batalkan.”

Pasukan Usamah akhirnya dilepas. Abu Bakar turut mengantarkannya sambil berjalan kaki ke batas kota. Usamah, sebagai panglima duduk di atas kuda. Usamah merasa bersalah duduk di atas punggung unta, sementara khalifah berjalan kaki. Lalu beliau mengusulkan supaya Abu Bakar naik ke kendaraan dan dirinya berjalan kaki.

Tapi tawaran itu ditolak Abu Bakar. “Biarlah kaki saya berdebu mengantar engkau berjuang pada jalan Allah. Laksanakanlah perintah Rasulullah ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Abu Bakar. Lalu Abu Bakar mendekat kepada Usamah dan mengajukan sebuah permintaan. “Jika engkau setuju, biarlah Umar tinggal bersamaku. Izinkanlah dia tinggal untuk membantuku.”

Subhanallah. Betapa hormatnya Abu Bakar kepada Usamah bin Zaid, sekalipun masih sangat muda, tetapi telah mendapatkan amanah dari Rasulullah untuk memimpin pasukan. Padahal Abu Bakar seorang khalifah, dan kepala negara. Tanpa izin Usamah pun beliau bisa saja meminta Umar tidak ikut pergi berperang.

wallahu'alam

http://www.republika.co.id

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...