Anggota Rohis

Dengan Penuh semangat semoga kita semua dapat menjalankan amanah dan tanggung jawab pada Rohis SMA N 1 Demak dengan sebaik-baiknya,
@ROHIS 2011-2012. :)

Idul Adha

Alhamdulillah 2 kerbau dan 1 kambing berhasil di sembelih dan di bagikan kepada warga oleh Rohis SMA N 1 Demak,
Pada Tanggal 10 Dzulhijjah 1433 H/ 6 Nopember 2011.

Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di selenggarakan di mushola pada tanggal 12 rabiul awal.
Acara ini diikuti oleh anak ROHIS dan sebagian siswa - siswi SMA N 1 Demak. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. :)

ROHIS Angkatan 2009-2010

Walaupun badan ini terpisahkan oleh tempat tapi kami tetap akan bersama dalam Perjuangan.

This is featured post 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarah Berdirinya ROHIS

0 komentar





Karena timbulnya keprihatinan pengurus Osis tahun 1991, terutama Sekretariat Bidang Ketakwaan melihat kondisi musholla SMA N 1 Demak yang tidak terawat, kotor, dan tidak aktif. Maka timbul keinginan untuk menghidupkan fungsi musholla sebagaimana mestinya. Mereka melakukan pembersihan musholla secara gotong royong.

Kemudian mereka berdiskusi untuk mencari solusi tentang bagaimana mengaktifkan fungsi musholla. Timbulah gagasan membentuk kepengurusan Rohani Islam (rohis).

Rohis lahir pada hari Selasa, 18 Pebruari 1992 ditandai dengan kajian islam pertama kali di musholla SMA N 1 Demak. Kajian pertama rohis dilakukan dengan mengundang senior mereka yang sudah berkuliah di perguruan tinggi.  Pengurus rohis pertama adalah Prabu Salyo sebagai ketua, dan anggotanya antara lain: Muh. Ashim, Ulil Albab. Mereka semua adalah para adik kelas yang dimaksudkan untuk regenerasi. Komposisi kepengurusan yang mereka lakukan memang selalu memasukkan adik kelas dalam proses regenerasi. Dalam struktur Osis, Rohis saya dijadikan sebagai “biro”, sebagaimana Pramuka, yang ketuanya langsung bertanggung jawab ke Ketua Osis tidak kepada Sekbid.

Kenapa yang dipilih nama rohis? Karena itu usulan dari bawah (bottom up) dari teman-teman pada waktu itu.
Selain pembentukan rohis dan kajian rutin. Mereka juga membuat gagasan “taman bacaan” merevitalisasi fungsi dan memakmurkan musholla. Mereka mengumpulkan beberapa buku dan majalah baru atau bekas (termasuk buletin Jumat). Ibu Suci menjadi donatur majalah bekas. Proposal “taman bacaan” diajukan kepada pihak sekolah dan disetujui. Sekolah, waktu itu Kepala Sekolahnya adalah Pak Soebarno, mengeluarkan dana sebesar Rp. 70.000 untuk program taman bacaan tersebut. Dana yang terkumpul baik yang didapat dari sekolah maupun infak-sodaqah dari beberapa teman lainnya, kami belanjakan buku-buku bacaan yang akan ditempatkan di musholla.

“Pesan mereka pada saat itu kepada adik-adik kelas mereka (rohis) adalah untuk tetap menghidupkan infaq/taman bacaan demi kemakmuran musholla kita.”


Original Text:

Salam kenal juga, mbak. Saya baca tulisan Mbak Jujuk di blog saya. Maaf saya telat menjawabnya. Tetapi saya harap masih tetap berguna. Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan:
1.    Saya sangat apresiasif terhadap niat mbak Jujuk mendokumentasikan perjalanan Rohis. Setidaknya ada adik kelas yang berniat membuat historiografinya. Sebenarnya bicara tentang rohis tidak terlepas dari OSIS yang dulu saya pimpin. Dalam perjalanan Osis yang saya pimpin itu ada beberapa tonggak yang mungkin bisa dikenang, tetapi saya memang tidak berniat membuat dokumentasinya atau perjalanan sejarahnya. Biarkan saja sampai ada seseorang yang bergerak “menemukannya”, seperti mbak Jujuk. Namun demikian saya tidak akan bicara Osis, tetapi tetap fokus rohis.
2.    Pertanyaan mbak Jujuk sama halnya membongkar lembaran lama yang telah usang dan menguning karena sudah 20 tahun sejak berdirinya rohis sampai sekarang. Jadi mohon maaf jika jawaban saya nanti sedikit terganggu dengan memori. Catatan agenda saya saat memimpin Osis, mungkin, ada di rumah Demak. Itupun kalau tidak hilang, dimakan rayap, atau tertelan banjir. Catatan tersbut mungkin akan sangat otentik. Tetapi sayangnya, saat ini saya sudah tidak berada di rumah Demak lagi. Namun saya tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan mbak Jujuk sebaik mungkin. Sebelum saya menulis jawaban ini saya juga telah berkonsultasi dengan “staf” saya dulu di Bidang Ketakwaan sekaligus pengurus Rohis. 
3.    Tahapan berdirinya Rohis SMA 1 Demak dapat disarikan sebagai berikut:
•    Timbulnya keprihatinan pengurus Osis, terutama Sekretariat Bidang Ketakwaan melihat kondisi musholla kita yang tidak terawat, kotor, dan tidak aktif. Maka timbul keinginan untuk menghidupkan fungsi musholla sebagaimana mestinya. Kami melakukan pembersihan musholla secara gotong royong.
•    Selanjutnya kami berdiskusi untuk mencari solusi tentang bagaimana mengaktifkan fungsi musholla. Timbulah gagasan membentuk kepengurusan Rohani Islam (rohis). InsyaAllah, jika ingatan kami benar, rohis lahir pada hari Selasa, 18 Pebruari 1992.
•    Kajian pertama rohis dilakukan dengan mengundang senior kita yang sudah berkuliah di perguruan tinggi.
•    Pengurus rohis pertama adalah Prabu Salyo (ketua), anggotanya antara lain: Muh. Ashim, Ulil Albab. Mereka adalah para adik kelas yang dimaksudkan untuk regenerasi. Komposisi kepengurusan yang saya lakukan memang selalu memasukkan adik kelas dalam proses regenerasi.
•    Dalam struktur Osis, Rohis saya jadikan sebagai “biro”, sebagaimana Pramuka, yang ketuanya langsung bertanggung jawab ke Ketua Osis tidak kepada Sekbid. •    Selain pembentukan rohis dan kajian rutin. Kami juga membuat gagasan “taman bacaan” merevitalisasi fungsi dan memakmurkan musholla. Kami mengumpulkan beberapa buku dan majalah baru atau bekas (termasuk buletin Jumat). Ibu Suci menjadi donatur majalah bekas. Proposal “taman bacaan” kita ajukan kepada pihak sekolah dan disetujui. Sekolah, waktu itu Kepala Sekolahnya adalah Pak Soebarno, mengeluarkan dana sebesar Rp. 70.000 untuk program taman bacaan tersebut. Dana yang terkumpul aik yang didapat dari sekolah maupun infak-sodaqah dari beberapa teman lainnya, kami belanjakan buku-buku bacaan yang akan ditempatkan di musholla.
Sampai dengan saat ini kami belum pernah menengok bagaimana kondisi musholla SMA 1 sekarang, terlebih bagaimana kegiatan rohis dan taman bacaannya. Pesan kami saat itu kepada adik-adik kelas kita (rohis) adalah untuk tetap menghidupkan taman bacaan demi kemakmuran musholla kita. 
Demikian mbak Jujuk sekelumit perjalanan rohis saat awal berdiri. Semoga membantu tesis yang mbak Jujuk kerjakan. 
Salam Susilo
Saya sendiri tidak begitu ingat detailnya, apakah pembentukan Rohis setelah atau sebelum saya pelatihan pengurus osis tingkat nasional angkatan III di cibubur jakarta. Tetapi saya punya "staf" yang selalu siap ditanya. Menurut catatan Teman saya itu bahwa: Rohis terbentuk tgl 18/02/92. Sementara saat saya ke Cibubur Jaktim tgl 4 sd 11 Sept 1992. Jadi duluan Rohis terbentuk. Ada jeda sekitar 6 bulan.
Jadi Rohis tidak ada kaitannya dengan program pelatihan saya. Kenapa yang dipilih nama Rohis? Itu usulan dari bawah (bottom up) dari teman-teman.
Demikian mbak.

Hadramaut Tanah Kelahiran Nabi Hud as

0 komentar

hadramaut
Dari Abu Hurairah RA, beliau berkata, ‘’Rasulullah SAW: ‘Tidak diterima shalatnya orang yang berhadas sehingga dia berwudu’.” Berkata seseorang dari Hadramaut, ‘’Apakah yang dimaksud hadas itu wahai Abu Hurairah?” Ia menjawab, “Ialah keluar angin atau kentut.” (HR Bukhari).

Dalam hadis di atas tercantum kata ‘’seseorang dari Hadramaut’’. Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas al-Hadith al-Nabawi, Hadramaut adalah daerah luas yang terletak di sebelah timur Aden, Yaman. ‘’Letaknya dekat pesisir Laut Arab. Di sekitarnya terdapat banyak pasir yang dikenal dengan nama al-Ahqaf,’’ ujar Syauqi.

Menurut Ensiklopedi Islam, Hadramaut adalah seluruh kawasan pantai Arab selatan, termasuk di dalamnya  wilayah pemerintahan Republik Yaman. Terbentang mulai dari Aden hingga Tanjung Ras al-Had. Di bagian utara berbatasan dengan padang pasir Arab Tengah (Arab Saudi), dan  sisanya berbatasan dengan Laut Arab.

Hadramaut terdiri dari pantai berpasir dan pegunungan batu yang gersang.  Bukit-bukit memagari sepanjang pantai di wilayah itu.  Di balik bukit-bukit itu menjulang gunung yang memanjang serta dataran tinggi yang luas. Puncaknya tertinggi pegunungan di Hadramaut bernama Gunung al-Arsyah.

Iklim di wilayah Hadramaut sangat kering. Khusus di daerah pedalaman, hujan turun paling banyak empat kali dalam setahun – berlangsung dari awal Oktober hingga akhir Februari. Saat musim panas, wilayah itu  dikenal sangat panas. Sebaliknya, di musim dingin menjadi sangat dingin, terutama jika angin bertiup dari arah utara.

Terdapat dua pelabuhan besar dan penting di wilayah itu, yakni asy-Syihr dan Mukalla. Kedua pelabuhan itu ramai dikunjungi para pendatang dan saudagar yang berniaga. Menurut Dr Syauqi, ada dua kota terkemuka di wilayah Hadramaut, yakni Tarim dan Syibam. Selain itu,  ada pula kota Borum, al-gail, al-hami, ad-Dis, asy-Syirmah, Qasai’ar, al-Girfah, Saywun, Taribah, Inat, al-Qasm, dan as-Sowairi.

Asal mula Hadramaut

Menurut legenda yang popular, nama Hadramaut berasal dari seorang tokoh legendaris bernama Hadramaut. Sayangnya, tak ditemukan informasi tentang sosok legendaris itu. Penduduk setempat meyakini bahwa Hadramaut adalah keturunan Yakrub bin Qathan bin Hud.  Ia berasal dari dari ras Arab Selatan atau Arab asli yang dipertentangkan dengan ras Arab Utara – Arab keturunan.

Dalam bahasa Ibrani wilayah itu disebut sebagai Havermavt. Dalam Alkitab (Kejadian:10-26-28), wilayah disebut sebagai "Hazarmaveth". Hadramaut merupakan negeri asal dan tempat tinggal Nabi Hud dan Saleh. Awal mula nama Hadramaut memang  masih menjadi perdebatan.

Ada yang meyakini  kisah orang-orang Yunani yang menemukan air di lembah tandus Arabia dan kemudian menamakannya dengan Hydreumata atau sumber air. Sebagian lainnya, meyakini kisah orang-orang Arab kuno, dari zaman sebelum orang-orang Yunani mencapai lembah Arabia.

Sebagai tempat tinggal dan tanah kelahiran Nabi Hud AS dan Saleh AS, dii Hadramaut terdapat tempat suci  bagi umat Islam yang dikenal dengan nama Qabr Hud (Makam Hud).  Penduduk di wilayah itu meyakini bahwa Nabi Hud AS adalah nenek moyang mereka. Di dekat makan Nabi Hud terdapat sebuah masjid yang ramai dikunjungi para peziarah, khususnya setiap tanggal 11 Syaban.

Sedangkan, makam Nabi Saleh AS  terdapat di lembah Sarr. Di wilayah itu juga terdapat pula makam nenek moyang kaum sayid, yakni Ahmad bin Isa yang bergelar ‘’al-Muhajir’’ dan Syaid Ahmad bin Muhammad al-Habsyi yang terletak di Sya’ab Ahmad.

‘’Ada pula makam nenek moyang suku Amud yang bernama Ahmad bin Isa bergelar ‘’Amududdin’’ yang berarti ‘’tiang agama’’ di Qadun,’’ papar Ensiklopedi Islam.  Tak cuma itu. Di Hadramaut juga terdapat amakam Aidid, seorang suci, di kota Aidid dan makam al-Idrus, yang juga orang suci, di asy-Syihr.

Empat golongan

Setidaknya ada empat golongan utama penduduk di wilayah Hadramaut, yakni golongan sayid (dianggap keturunan Nabi SAW), golongan suku-suku, golongan menengah, dan golongan bidak. Golongan paling atasa adalah sayid, karena mereka menganggap sebagai keturunan Husein bin Ali bin Abi Thalib – cucu Rasulullah SAW.

Golongan keturunan syaid bergelar Habib dan kaum perempuannya disebut Habibah. Menurut Ensiklopedi Islam, jumlah golongan sayid terbilang besar di Hadramaut. Mereka membentuk kebangsawanan beragam yang sangat dihormati,  dan sangat berpengaruh secara moral di kalangan penduduk Hadramaut.

Mereka yang berasal dari golongan Sayid juga terbagi dalam kabilah-kabilah. Setiap kabilah memiliki pemimpin yang turun-temurun bergelar munsib. Para munsib  tinggal di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat asal keluarganya. Setiap munsib , diakui sebagai pemimpin agama oleh suku-suku yang berdiam di sekitar mereka. Mereka pun dianggap sebagai penguasa daerah di tempat tinggal mereka.

Hadramaut dan Indonesia memiliki hubungan yang terbilang erat. Pendatang dari Hadramaut datang ke Nusantara sekitar abad ke-13 M. Pada zaman itu, hubungan dagang antara Arab Selatan dan Nusantara sudah terjalin. Sembari berniaga, para saudagar dari Hadramaut juga menyebarkan dan mengajarkan ajaran Islam.

Tak sedikit pendatang asal Hadramaut yang menjadi ulama terkemuka dan tokoh masyarakat di Nusantara. Beberapa contohnya antara lain, Sayid Husein Abu Bakar al-Aidrus (wafat 1798 m) – ulama terkemuka di Betawi. Selain itu, Sayid Abdurrahman bin Abu bakar al-Habsyi (wafat 1853), Salim bin Abdullah bin Sumair, serta Sayid Usman bin Akil bin Yahya al-Alawi (wafat 1913).

Orang Arab asal Hadramaut tersebar di sejumlah daerah, seperti: Banten, Betawi (Jakarta), karawang, Priangan, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Rembang, Surabaya, Madura, Makassar, Ternate, Aceh, Palembang, dan Pontianak.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...