Anggota Rohis

Dengan Penuh semangat semoga kita semua dapat menjalankan amanah dan tanggung jawab pada Rohis SMA N 1 Demak dengan sebaik-baiknya,
@ROHIS 2011-2012. :)

Idul Adha

Alhamdulillah 2 kerbau dan 1 kambing berhasil di sembelih dan di bagikan kepada warga oleh Rohis SMA N 1 Demak,
Pada Tanggal 10 Dzulhijjah 1433 H/ 6 Nopember 2011.

Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di selenggarakan di mushola pada tanggal 12 rabiul awal.
Acara ini diikuti oleh anak ROHIS dan sebagian siswa - siswi SMA N 1 Demak. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. :)

ROHIS Angkatan 2009-2010

Walaupun badan ini terpisahkan oleh tempat tapi kami tetap akan bersama dalam Perjuangan.

This is featured post 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Menguap Bisa Membatalkan Shalat?

0 komentar

Belum didapatkan dalil atau keterangan yang menyebutkan bahwa menguap itu bisa membatalkan shalat. Tapi memang benar, jika dalam shalat hendak menguap Nabi saw memerintahkan supaya menahannya, bahkan jangan sampai mengeluarkan suara "ha".

Rasulullah SAW bersabda, "Menguap ketika shalat itu dari syetan. Karena itu bila kalian ingin menguap maka tahanlah sebisa mungkin" (HR Thabrani).

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda, "Adapun menguap itu datangnya dari syetan, maka hendaklah seseorang mencegahnya (menahannya) selagi bisa. Dan jangan sampai mengeluarkan suara "HA",  karena itu syetan tertawa dalam mulutnya" (HR Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah).

Hadits diatas tidak menjadikan shalat batal disebabkan menguap, akan tetapi menjelaskan bahwa jika hendak menguap dalam shalat maka tahanlah. Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan.

Dari Suhail bin Abi Sholih berkata, aku mendengar putera Abi Said al-Khudri menceritakan pada ayahku, dari ayahnya dia berkata: Rasulullah saw bersabda; Jika seorang di antaramu menguap maka hendaklah menahan dengan tangannya diletakkan di mulutnya, karena syaitan akan masuk.” (Shahih Muslim 14/264)

Wallahu'alam

Pacaran

0 komentar

Agama itu untuk diyakini dan dijalani; jangan mempermasalahkan itu halal atau haram yang dalam Al_Qur'an dan Sunnah Rasul sendiri belum ada penjelasan tentang itu; segala sesutu tergantung dari niat, kalau niatnya baik dan tidak bertentangan dengan syari'at kenapa mesti dipermasalahkan, jadi jangan mengurusi orang lain tentang itu.

itulah sekelumit kalimat yang selalalu terngiang di telinga yang secara tidak sengaja obrolan itu menyinggung bagaimna pandangan Islam mengenai pacaran.

Tak ada yang memungkiri bahwa Islam adalah agama yang maha sempurna, penyempurna agama-agama sebelumnya(rahmatallilalamin), yang mengatur seluruh tatanan kehidupan baik secara vertilkal(hablumminallah) maupun horizontal(hablumminannas dan hablum bil alam). Kaitannya dengan pacaran (hablumminannas) syari'at sudah mengatur dengan sedemikian rupa, untuk menjaga kehormatan, melindungi haga diri, dan kesucian manusia itu sendiri.

Interaksi antara pria dan wanita dibagi menjadi 2, yaitu Mahram dan Nonmahram. Hubungan mahram adalah seperti yang dijelaskan dalam Surat An-Nisa ayat 23 "...mahram seorang laki-laki (atau wanita yang tidak boleh dinikahi oleh laki-laki) adalah ibu (termasuk nenek), sauadara perempuan (baik sekandung atau sebapak), bibi (dari bapa atau ibu), keponakan (dari saudara sekandung atau sebapak), anak permpuan (baik itu asli ataupun tiri dan termasuk didalamnya cucu), ibu susu, saudara sesusuan, ibu mertua, dan menantu perempuan". Maka, yang tidak termasuk mahram adalah sepupu, isrteri paman, dan semua wanita yang tidak disebutkan dalam ayat di atas.Hubungan yang kedua adalah hubungan nonmahram, yaitu larangan berkhalat (berdua-dua), larangan melihat langsung, dan kewajiban berhijab di samping berjilbab, tidak bisa berpergian lebih dari tiga hari dan tidak bisa menjadi walinya. Adapula aturan yang lain, yaitu jika ingin berbicara dangan nonmahram, maka seorang perempuan harus didampingi oleh mahram aslinya.

Baiknya kita merenugi dan mencermati keterangan yang menjelaskan tentang permasalahan di atas (pacaan), dalam Al-Qur'an dan Al_Hadis dijelaskan;
"...Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Al-Isra:32).

" Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: 'Hendaklah mereka itu menundukan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya...' Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan: ' Hendaknya mereka itu menundukan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya...'." (An-Nur: 30-31).

Menundukan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak dilepas begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan merasakan kelezatan atas birahinya kepada lawan jenisnya yang beraksi. Pandangan dapat dikatakan terpelihara apabila secara tidak sengaja melihat lawan jenis kemudian menahan untuk tidak berusaha melihat mengulangi melihat lagi atau mengamat-amati kecantikannya atau kegantengannya.

Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata, "Saya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi: "Palingkanlah pandangan itu!" ( HR Muslim, Abu Daud, Ahmad, dan Tirmizi).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda yang artunya, "Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diinngkari oleh alat kelamin." ( HR Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah).

"Tercatat atas anak Adam nasibnya daru perzinahan dan pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu bisa dibenarkan (direalisasikan) oleh kelamin atau digagalkannya." (HR Bukhari).

Di dalam kitab Dzamm ul-Hawa, Ibnu Jauzi menyebutkan bahwa Abu Hurairah r.a. dan Ibn Abbas r.a. keduanya berkata, Rasulullah saw Berkhotbah, "Barang siapa yang memiliki kesempatan untuk menggauli seorang wanita atau budak wanita lantas dia melakukanya, maka Allah akan mengharamkan surga untuknya dan akan memasukan dia ke dalam neraka. Barang siapa yang memandang seorang wanita (yang tidak halal) baginya, maka Allah akan memenuhi kedua matanya dengan api dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam neraka. Barang siapa yang berjabat tangan dengan wanita (yang) haram (baginya) maka di hari kiamat dia akan datang dalam keadaan dibelenggu tangan di atas leher, kemudian diperintahkan untuk masuk ke dalam neraka. Dan, barang siapa yang bersenda gurau dengan seorang wanita, maka dia akan ditahan selama seribu tahun untuk setiap kata yang diucapkan di dunia. Sedangkan setiap wanita yang menuruti (kemauan) lelaki yang haram (untuknya), sehingga lelaki itu terus membarengi dirinya, mencium, bergaul, menggoda, dan bersetubuh dengannya, maka wanita itu juga mendapatkan dosa seperti yang diterima oleh lelaki tersebut."

Yang terendah adalah zina hati dengan bernikmat-nikmat karena getaran jiwa yang dekat dengannya, zina mata dengan merasakan sedap memandangnya dan lebih jauh terjerumus ke zina badan dengan saling bersentuhan, berpegangan, berpelukan, berciuman, dan seterusnya terjadilah persetubuhan.

Ath-Thabrani dan Al-Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Allah berfirman yang artinya, 'Penglihatan (melihat wanita) itu sebagai panah iblis yang sangat bercun, maka siapa mengelakan (meninggalkannya) karena takut pada-Ku, maka Aku menggantinya dengan iman yang dapat dirasakan manisnya dalam hatinya."

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut sudah bisa diambil kesimpulan bagaimana Islam memandang permasalahan itu. Namun, bukan berarti tidak ada solusi dalam mengatasinya, Islam menetapkan atau mengakomodasi dalam lembaga perkawinan dengan beberapa tahapan yaitu proses ta'aruf (pendekatan), hitbah (meminang), dan munakahat (Nikah).

Interaksi dan komunikasi antara laki-laki dan perempuan sebenarnya boleh-boleh saja, dengan syarat wanitanya tetap menggunakan hijabnya dan tidak berbicara di luar kebutuhan. Adapun jika wanitanya tidak menutup diri serta melembutkan suaranya, mendayu-dayukannya, bercanda, bergurau atau perbuatan yang lain yang tidak layak maka diharamkan. Bahkan bisa menjadi pintu bencana.

Pacaran dapat menimbulkan syirik kecil, bagaimana tidak?? karena cintanya terhadap Allah sudah dicemari, telah tersaingi, menyamakan, bahkan bisa jadi melebihi kecintaannya terhadap Allah. Kekasihnya dianggap segala-galanya, rela berkorban jiwa dan raganya, dan tidak sedikit orang yang perustasi bahkan sampai bunuh diri karena patah hati. Naudzubillahimindzalik....

Pacaran dapat menimbulkan perbuatan zina, yang dapat menghancurkan harga diri, kehormatan dan masa depannya. Pacaran dapat memutuskan urat saraf malu, lantaran malu dibilang jomblo atau tidak laku akhirnya yang seharusnya kita malu terhadap Allah malah lebih malu terhadap sesamanya. Pacaran menumbuhkan penyakit hati; ria, takabur, dan sombong. Banyak pacar, pacarnya cantik/ganteng. Merasa bangga, lalu ingin dipuji, disanjung-sanjung... dsb.

Mudah-mudahan kita semua tidak terjerumus kedalam hal tersebut, kita bisa lebih berhati-hati dalam bertindak apakah ada dalam quran dan sunnah atau tidak, mudah-mudahan kita bisa menteladani sosok Rasulullah Saw.
Wallahu'alam

berbagai sumber

Gelar Ash-Shiddiq untuk Abu Bakar r.a

0 komentar

Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. adalah sahabat setia Rasulullah saw yang senantiasa mendampingi beliau pada masa-masa pelik penyiaran Islam. la memiliki nama lengkap Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka'ab At-Taimi Al-Quraisy.

Sebelum memeluk Islam, ia bernama Abdul Kakbah dan ketika besar mendapat nama lain, yaitu Atiq, berasal dari nama lain Kakbah yang berarti Purba. Ada juga yang mengatakan Al-Atiq adalah gelar yang diberikan Rasulullah yang berarti 'yang dibebaskan'.

Alasannya pun beragam. Ada yang berpendapat karena Rasulullah pernah mengatakan kepadanya, "Anda adalah orang yang dibebaskan Allah dari api neraka!" Ada pula yang berpendapat bahwa gelar itu diberikan karena ketampanan wajahnya atau karena banyaknya hamba sahaya yang dimerdekakan olehnya.

Setelah memeluk Islam, Rasulullah saw memberi nama Abdullah. Kemudian menjadi Abu Bakar karena kepeloporannya sebagai orang yang pertama kali memeluk Islam, selain Khadijah r.a.

Penamaan Bakar ini karena mempunyai arti dini atau awal, sebagaimana sabda Rasulullah saw tentang keislamannya, "Tidak kuajak seorang pun masuk Islam melainkan ia ragu dan bimbang, kecuali Abu Bakar. la tidak ragu dan bimbang ketika kusampaikan kepadanya." (HR Bukhari)

Suatu ketika Rasulullah saw tengah dilanda kesedihan yang mendalam. Dua orang yang sangat dicintainya telah dipanggil ke rahmatullah. Mereka adalah Abu Thalib, pamannya, dan Khadijah r.a, istri yang sangat dicintainya.

Perjuangan menegakkan risalah bukanlah hal yang mudah. Pada saat Rasulullah saw bingung dan kesulitan, merekalah orang pertama yang selalu siap melindungi dan menghiburnya. Tentu saja kepergian mereka di dunia ini memberikan duka yang mendalam bagi sang pembawa risalah.

Dalam tahun duka tersebut, Allah SWT hendak menghibur kekasih-Nya dengan perjalanan yang luar biasa menakjubkan. Perjalanan itu terkenal dengan peristiwa Isra' Mi'raj. Sungguh anugerah nikmat yang luar biasa bagi Rasulullah saw. karena peristiwa itu tidak pernah dialami nabi-nabi sebelumnya.

Malam 27 Rajab itu dimulainya perjalanan spektakuler. Rasulullah saw. melakukan Isra' dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur'an, "Maha suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang teiah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS Al-lsra' [17]: 1)

Perjalanan dilanjutkan dengan Mi'raj ke Sidratul Muntaha. Di sanalah Rasulullah saw menerima perintah shalat lima waktu.

Kemudian dia mendekat (pada Muhammad), lalu bertambah dekat sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu disompoikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentong apa yang diiihatnya itu? Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (puia) melampauinya. Sungguh, dia telah meiihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar. (QS An-Najm [53]: 8-18)

Sungguh besar kekuasaan Allah SWT yang telah memperjalankan hamba-Nya dalam waktu semalam ke berbagai macam tempat yang saling berjauhan. Allahu Akbar! Perjalanan ini makin mengukuhkan keyakinan Rasulullah saw dalam menghadapi segala rintangan yang akan menghalangi dakwahnya.

Keesokan harinya, peristiwa Isra' menjadi kabar besar di kota Mekah. Kaum musyrikin Quraisy mencibir cerita Rasulullah yang telah melakukan perjalanan pulang pergi dari Mekah ke Yerussalem dan kembali ke Mekah hanya dalam waktu semalam.

Keheranan mereka berdasarkan pada pengalaman mereka. Menurut mereka, perjalanan pulang pergi Mekah - Yerussalem yang memakan waktu sampai 2 bulan, tidak mungkin bisa dipersingkat waktunya hanya semalam. Hal itu sungguh mustahil.

Bahkan, mereka menganggap bahwa cerita yang dibawa Muhammad itu adalah rekayasa atau khayalan yang tinggi dari mulutnya. Mereka tidak mengakui akan bukti kebenaran yang telah dibawa Rasulullah saw.

Segala sesuatu dianggap mustahil bagi mereka yang tidak mengimani kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Selain menjadi bahan olok-olokan kaum musyrikin Ouraisy, peristiwa besar tersebut membuat beberapa orang muslim yang belum kuat imannya menjadi murtad.

Peristiwa itu juga membuat Muth'in bin Adi - penolong Rasulullah saw. sepulangnya dari Thaif dan pelindung beliau dari kekejaman paman-pamannya yang musyrik - ikut menyangsikan perjalanan tersebut.

Ia berkata, "Apa yang engkau katakan sebelum ini adalah persoalan yang masuk akal. Namun, tidak kali ini. Aku bersaksi bahwa engkau berdusta! Kami membutuhkan waktu sebulan untuk pergi ke Yerusalem dan sebulan lagi untuk pulang. Lalu, engkau berkata bahwa kau tempuh jarak itu hanya dalam waktu semalam? Demi Lata dan Uzza, aku tidak percaya kepadamu."

Beberapa orang yang telah mendengar berita tersebut bercerita kepada Abu Bakar r.a. Akan tetapi, tidak ada keraguan sedikit pun pada diri Abu Bakar r.a tentang peristiwa yang dianggap mustahil bagi kebanyakan orang tersebut.

Ia katakan kepada orang-orang yang meragukan cerita Rasulullah saw, "Demi Allah, apa pun yang dikatakan oleh Rasulullah saw pasti benar. Mengapa kalian merasa heran dengan cerita itu? Demi Allah, sekalipun beliau mengabarkan kepadaku bahwa berita telah datang kepadanya dari langit ke bumi dalam sesaat, baik pada waktu siang maupun malam, niscaya aku akan membenarkannya. Padahal, kalian percaya bahwa beliau menerima wahyu dari langit. Bukankah itu lebih mengherankan daripada apa yang kalian dengar saat ini?"

Abu Bakar r.a. segera menyusul Rasulullah dan mendengarkan beliau bercerita tentang ciri-ciri Masjidil Aqsa. Setiap Rasulullah saw selesai menceritakan bagian per bagian Masjidil Aqsa, Abu Bakar r.a selalu berkata, "Engkau benar".

"Aku bersaksi bahwa engkau utusan Allah." Begitu seterusnya hingga akhir cerita. Abu Bakar sangat yakin peristiwa Isra' benar-benar terjadi karena ia pernah mengunjungi Masjidil Aqsa sebelumnya. Rasulullah menggambarkan Masjidil Aqsa sampai ke hal-hal yang paling detail. Abu Bakar pun berkali-kali membenarkannya.

Melihat kesungguhan Abu Bakar r.a. dalam membenarkan ceritanya, Rasulullah berkata kepadanya, "Dan engkau, wahai Abu Bakar adalah ash-shiddiq, yang benar dan dapat dipercaya." Sejak saat itulah gelar Ash-Shiddiq sangat terkenal yang disematkan oleh Rasulullah kepada Abu Bakar. Jadilah namanya Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Pernah suatu ketika terjadi selisih paham antara Abu Bakar r.a dan Umar bin Khaththab r.a. Abu Bakar yang berada di pihak salah berusaha meminta maaf kepada Umar bin Khaththab, tetapi Umar menolaknya. Ketika Rasulullah mengetahuinya, beliau bersabda, "Allah selalu mengampunimu, Abu Bakar."

Umar menyesal karena telah menolak permohonan maaf Abu Bakar. Ia pun segera mencari Abu Bakar yang pada saat itu sedang bersama Rasulullah saw. Melihat kedatangan Umar, wajah ceria Rasulullah berubah menjadi marah.

Situasi ini membuat Abu Bakar menjadi cemas seandainya Rasulullah saw marah terhadap Umar bin Khaththab, padahal itu adalah salahnya. Ia pun berkata, "Wahai Rasulullah! Demi Allah! Akulah yang berbuat zalim!" Abu Bakar menegaskan itu hingga dua kali.

Akan tetapi, Rasulullah saw tetap menegur Umar hingga dua kali juga dengan berkata, "Sesungguhnya aku telah diutus kepada kalian, tetapi kalian hanya mengatakan, 'Engkau telah berbohong!' Sementara, Abu Bakar telah berkata 'benar', juga teiah melindungiku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian akan menyerahkan sahabatku ini kepadaku (untuk dihukum)?" (HR Bukhari)

Saat itu Rasulullah saw hendak menunjukkan kedudukan Abu Bakar yang mulia di antara para sahabat. Hal ini dikarenakan memang tidak ada alasan bagi Umar bin Khaththab r.a untuk tidak memaafkan Abu Bakar r.a yang sudah meminta maaf, di samping kemuliaan kedudukan Abu Bakar di hadapan Allah dan Rasul-Nya.

Dalam kisah yang lain, Ali bin Abi Thalib pun membuat pernyataan tentang Abu BakarAsh-Shiddiq, "Semoga Allah mengasihimu, wahai Abu Bakar. Anda adalah teman akrab Rasulullah, sahabat setianya, tempat curahan hatinya, tempat menyimpan rahasianya, dan sahabatnya yang diajak bermusyawarah. Anda adalah laki-laki pertama yang masuk Islam, orang yang paling tulus imannya, orang yang paling baik yang menemani Rasulullah, yang paling banyak kebaikannya, yang paling mulia di masa lalu, yang paling mulia kedudukannya, yang paling tinggi derajatnya, dan yang paling mirip dengan Rasul dalam hal petunjuk dan jalannya".

Allah menamaimu dalam kitab-Nya dengan nama shiddiq (yang membenarkan). Allah berfirman, "Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itutah orang yang bertakwa." (QS Az-Zumar [39]: 33).

Orang yang membawa kebenaran ialah Muhammad dan yang membenarkan ialah Abu Bakar.

"Anda adalah orang yang paling dermawan di kala orang lain bersifat kikir. Anda telah menemani Nabi saw menghadapi berbagai kesulitan di kala orang lain berdiam diri. Anda telah menemani Nabi saw. dengan setia di masa-masa kritis dan menggantikan beliau menjadi khalifah dengan baik dan menjalankan khilafah dengan baik." Pernyataan ini diungkapkan Ali bin Abi Thalib tatkala Abu Bakar r.a meninggal.

Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a adalah salah satu sahabat yang dijamin masuk surga. Bahkan, Allah SWT memberikan keistimewaan khusus kepadanya dengan membukakan semua pintu surga untuknya dan ia boleh memasuki surga dari pintu mana pun.

berbagai sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...