Anggota Rohis

Dengan Penuh semangat semoga kita semua dapat menjalankan amanah dan tanggung jawab pada Rohis SMA N 1 Demak dengan sebaik-baiknya,
@ROHIS 2011-2012. :)

Idul Adha

Alhamdulillah 2 kerbau dan 1 kambing berhasil di sembelih dan di bagikan kepada warga oleh Rohis SMA N 1 Demak,
Pada Tanggal 10 Dzulhijjah 1433 H/ 6 Nopember 2011.

Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di selenggarakan di mushola pada tanggal 12 rabiul awal.
Acara ini diikuti oleh anak ROHIS dan sebagian siswa - siswi SMA N 1 Demak. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. :)

ROHIS Angkatan 2009-2010

Walaupun badan ini terpisahkan oleh tempat tapi kami tetap akan bersama dalam Perjuangan.

This is featured post 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Amalan orang-orang kafir

0 komentar

"Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya." (QS An-Nur: 39)

Dalam ayat ke-39 surat An-Nur ini, Allah menyatakan bahwa amal-amal baik orang kafir itu laksana fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.
Sering dalam kehidupan sehari-hari kita mendapati orang-orang non muslim yang berlaku baik, seperti ia sangat menghargai waktu, memiliki etos kerja tinggi, memiliki sifat dermawan kepada sesama, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Namun, sekali lagi melalui ayat ini seolah Allah ingin mempertegas bahwa apa yang mereka (orang kafir) lakukan itu tidak bernilai di sisi Allah. Mengapa? Karena orang kafir beramal tidak didasarkan atas iman.

Ada sebuah analogi sederhana untuk membuktikan betapa sia-sianya amal tanpa dilandasi keimanan. Jika ada seseorang bekerja untuk perusahaan A, lantas ia menginginkan gaji dari perusahaan B. Apakah perusahaan B akan memberikan gaji kepada seseorang yang tidak bekerja untuk perusahaannya? Seseorang tersebut ibarat orang kafir, ia beramal untuk Tuhan selain Allah, apakah mungkin Allah memberikan Surga-Nya untuk orang kafir?

Lantas kita pun berpikir tentang dosa orang kafir. Apakah orang kafir yang tidak sholat itu dosa? Jelas tidak, karena kekafirannya. Dosa bagi orang kafir adalah karena kesyirikannya, ia menyekutukan Allah dengan tuhan yang lain. Dan, dosa syirik adalah sebesar-besarnya dosa. Hanya dengan rahmat Allah-lah dosa syirik seorang kafir diampuni ketika ia bertaubat.

Namun kita yang seorang muslim pun harus berhati-hati dengan amalan kita, karena tidak tertutup kemungkinan amalan-amalan kita pun laksana fatamorgana yang tak memiliki nilai di sisi Allah manakala kita beramal tetapi tidak didasari iman kepada Allah. Mari kita merefleksikan diri kita, apakah amal-amal kita telah didasarkan atas keimanan?

wallahu'alam

Terompet yang akan ditiup malaikat israfil

0 komentar

Sekarang penulis akan sharing artikel dan mengajak untuk merenungkan seberapa besar terompet yang akan ditiup oleh Malaikat Israfil. Sebelum mengkaji seberapa besar terompet yang akan ditiup Malaikat Israfil, terlebih dahulu marilah kita bahas apa makna terompet yang disebutkan pada beberapa ayat Al Qur’an? Dalam sejarah manusia khususnya jaman kerajaan, terompet sering digunakan sebagai alat untuk pengumuman tentang sesuatu hal dari Sang Raja atau juga untuk memberikan tanda bahwa para pengawal kerajaan untuk berkumpul. Demikian juga Kerajaan Allah yang meliputi seluruh alam semesta dan ciptaannya. Ketika Hari Akhir saatnya tiba, maka terompet akan ditiup oleh Malaikat Israfil untuk pertama kalinya. Kemudian ketika Allah akan mengumpulkan dan menghidupkan kembali seluruh manusia untuk menghadapi pengadilan Allah, terompet juga ditiup untuk kedua kalinya.

Para ilmuan tidak ada habis-habisnya meneliti dan memikirkan keberadaan alam semesta ini, dari mengamati bumi beserta isinya termasuk diri manusia itu sendiri, sampai benda-benda di luar angkasa bahkan sampai memprediksi bentuk alam semesta ciptaan Allah ini. Gambar-gambar yang dapat dilihat pada www.rense.com/general72/size.htm hanyalah merupakan bagian kecil dari benda-benda yang ada di alam semesta ini yang berhasil diamati manusia. Semua benda-benda tersebut tentunya berada dalam suatu ruang yang disebut alam semesta yang diasumsikan oleh para ilmuan ada batasnya. Berkaitan dengan hal ini, para ilmuan mencoba memprediksi bentuk alam semesta melalui pengamatan atau data-data yang dikumpulkan dengan peralatan canggih yang ada. 

Pada awalnya para ilmuan memprediksi bahwa bentuk alam semesta ini adalah datar atau “flat”.  Kemudian ilmuan dari Inggris memprediksi lagi bahwa bentuk alam semesta adalah seperti bola sepak. Prediksi bentuk alam semesta seperti bola sepak sebenarnya sebuah perkiraan yang bagus sebagai bagian dari teori alam semesta yang terbatas (finite universe theory). Akan tetapi berdasarkan data-data terbaru khususnya tentang “background radiation” yang dikumpulkan para ilmuan tidak mendukung prediksi tersebut teori tersebut. Dengan data-data terbaru yang dikumpulkan oleh sebuah alat milik NASA bernama “Wilkinson Microwave Anisotropy Prob (WMAP)” Profesor Frank Steiner dari Universitas Ulm, Jerman, yang memimpin sekelompok ilmuan mengajukan bentuk alam semesta yang sungguh mengejutkan. Profesor Steiner dan kelompoknya mengklaim bahwa alam semesta berbentuk seperti terompet. Bentuk ini cocok dengan hasil observasi (data yang dikumpulkan). Pada ujung depan terompet merupakan bagian alam semesta yang dapat diobservasi manusia (observable) dan semakin ke ujung belakang dari terompet tersebut adalah bagian alam semesta yang tidak bisa diamati (unobservable). (Lihat Gambar). Sekarang marilah kita tengok salah satu ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang terompet, misalnya QS An-Naml ayat 87: “Dan pada hari (ketika) TEROMPET ditiup, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri” (QS 27:87).

Apa yang bisa kita tafsirkan dari ayat tersebut? Jika hasil temuan para ilmuan tersebut kita gunakan sebagai dasar untuk menafsirkan ayat tersebut, maka yang dimaksud terompet adalah alam semesta ini yang bentuknya menyerupai terompet. Jadi ketika terompet (baca alam semesta dan seluruh isinya) ditiup oleh Malaikat Israfil untuk pertama kalinya maka saat itulah “timing” dari berakhirnya kehidupan manusia dan hancurnya alam yang fana ini atau yang disebut sebagai Hari Akhir. Dalam beberapa ayat lain, terompet ini akan ditiup untuk yang kedua kalinya yang menandai dibangkitkannya manusia dari kematian untuk menghadapi pengadilan Allah, dan inilah yang dinamakan sebagai Hari Kiamat (Hari Kebangkitan). Sebagai catatan, sebenarnya menurut Al Qur’an ada urutan kejadian berkenaan dengan hari akhir yang diawali dengan hancurnya alam semesta dan berakhirnya kehidupan dunia ini (dalam Al Qur’an salah satunya merujuk pada kata “as-saa’ah” atau Waktu dimulainya kehidupan akhirat yang ditandai dengan ditiupnya terompet untuk yang pertama kalinya) yang diikuti dengan dibangkitkannya dan dikumpulkannya manusia dari kematian (dalam Al Qur’an dikatakan dengan istilah “al-qiyaamah” atau hari Kiamat yang ditandai dengan ditiupnya terompet untuk yang kedua kalinya)  untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya selama di dunia (salah satu istilah yang dipakai di Al Qur’an “yaumul fashl” atau hari penentuan).  Wallaahu a’lam bish shawab.

http://www.alquran-indonesia.com

Hisablah diri kalian sebelum dihisab Allah swt

0 komentar

Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Syaddad bin Aus ra., “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian…” (HR at-Tirmidzi; hadis hasan).

Dikatakan bahwa di antara pengertian “orang yang mengendalikan hawa nafsunya” (mân dâna nafsahû) dalam hadis di atas adalah orang yang selalu menghisab dirinya di dunia sebelum dirinya dihisab pada Hari Kiamat. Terkait dengan hadis ini, Umar bin al-Khaththab ra. pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah SWT kelak. Bersiaplah menghadapi Hari Perhitungan yang amat dahsyat. Sesungguhnya hisab pada Hari Kiamat akan terasa ringan bagi orang yang selalu menghisab diri ketika di dunia.” (Lihat: Al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarh Jamî’ at-Tirmidzi).

Muhasabah (menghisab/evaluasi diri), sebagai salah satu pesan inti dari hadis di atas, sangatlah penting dilakukan oleh setiap Muslim. Dengan sering melakukan muhasabah, ia akan mengetahui berbagai kelemahan, kekurangan, dosa dan kesalahan yang ia lakukan. Dengan itu, ia akan terdorong untuk selalu melakukan perbaikan diri. Dengan itu pula, dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari hari ke hari, bahkan dari waktu ke waktu ia menjadi semakin baik.

Imannya makin kuat; ketakwaannya makin kokoh; shalatnya makin khusyuk; amal shalihnya makin bertambah dan dosa-dosanya makin berkurang karena semakin jarangnya ia bermaksiat; semangat dakwahnya makin bergelora; pengorbanannya makin besar; akhlaknya makin terpuji, ia makin ikhlas, makin tawaduk, makin wara’, makin menjaga setiap amanah dan makin taqarrub kepada Allah SWT.

Sayangnya, karena berbagai kesibukan, entah karena sibuk mencari nafkah, atau berdakwah, seorang Muslim sering tak sempat lagi ber-muhasabah; waktunya habis oleh ragam aktivitas yang ia lakukan. Ada juga yang jarang ber-muhasabah bukan karena sibuk, tetapi karena memang ia lalai.

Tentu, jarangnya seorang Muslim melakukan muhasabah merupakan musibah. Betapa tidak. Dengan jarangnya ber-muhasabah (menghisab diri), seorang Muslim sering merasa tidak ada yang kurang pada dirinya; ia merasa dirinya baik-baik saja.

Padahal boleh jadi, imannya makin rapuh, ketakwaannya makin terkikis, shalatnya tidak lagi khusyuk, amal shalihnya sudah jauh berkurang, dosa-dosanya makin bertambah, semangat dakwah hampir-hampir padam, pengorbanannya makin menipis, akhlaknya makin jauh dari islami, mulai sering muncul ketidakikhlasan, ketidaktawadukan, ketidak-wara’-an, ketidakamanahan dan makin jauh dari Allah SWT. Namun, semua itu sering tidak ia sadari karena kepekaan spiritual memang telah hilang dari dirinya akibat jarangnya ia melakukan muhasabah.

Akibat lebih jauh, ia sering merasa tidak berdosa atau bersalah saat shalatnya lalai dan tidak khusyuk, saat amal shalihnya semakin berkurang, saat halaqah-nya jarang-jarang, saat melalaikan banyak amanah dakwah dan saat melakukan banyak dosa; seperti sering melihat hal-hal yang haram, mendengar hal-hal yang sia-sia, melakukan hal-hal yang syubhat, dll.

Ia pun tidak lagi merasa menyesal saat sering meninggalkan shalat berjamaah, saat jarang melakukan shalat malam, saat shalat subuhnya suka terlambat, saat tidak mampu lagi berpuasa sunnah, saat jarang membaca al-Quran, saat tidak lagi bisa menangis ketika berdoa, dll. Tentu, semua itu, sekali lagi karena jarangnya ia melakukan muhasabah.

Kita tampaknya perlu merenungkan kembali keteladanan Nabi Muhammad saw. dan para Sahabat beliau yang mulia. Nabi Muhammad saw., misalnya, pernah semalaman tidak dapat tidur karena khawatir memikirkan sebutir kurma (hanya sebutir kurma) yang terlanjur beliau makan di suatu tempat. Pasalnya, belakangan beliau berpikir bahwa kurma itu mungkin bagian dari kurma sedekah yang disediakan untuk fakir-miskin. Itulah yang menjadi beban pikiran beliau semalaman.

Abu Bakar ash-Shiddiq ra. pernah memuntahkan kembali makanan, yang baru belakangan beliau ketahui, bahwa makanan itu ternyata merupakan pemberian dari tukang ramal. Saat beliau ditanya, mengapa berlaku demikian, beliau menjawab, “Andai untuk memuntahkan makanan itu saya harus menebusnya dengan nyawa saya, saya pasti akan melakukannya. Sebab, saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ’Badan yang tumbuh dengan makanan yang haram maka api neraka lebih baik baginya.’ Saya sangat khawatir dengan itu.” (Kanz al-’Umal).

Hal yang sama dilakukan oleh Umar bin al-Khaththab ra. Beliau pernah memuntahkan kembali air susu yang beliau minum, karena baru belakangan beliau tahu, bahwa ternyata air susu itu berasal dari unta sedekah. Seketika beliau memasukkan jarinya ke mulutnya dan memuntahkan kembali air susu itu (Imam Malik, Al-Muwaththa).

Secuil kisah di atas mungkin bagi kita semacam kisah-kisah biasa yang sepertinya mustahil kita teladani. Asumsi semacam itu sesungguhnya hanyalah menunjukkan, bahwa kita benar-benar sudah sangat jauh dengan keteladanan Nabi saw, para Sahabat dan generasi salafush-shalih dulu. Mengapa? Karrena mungkin salah satunya kita jarang melakukan muhasabah. Kalaupun kita melakukannya, mungkin itu kita lakukan setahun sekali, saat pergantian tahun, atau mungkin saat terkena musibah.

Padahal dosa dan kemaksiatan kita lakukan setiap hari, bahkan mungkin setiap waktu. Tentu, semua dosa dan kemaksiatan itu sangat mudah kita lupakan, menurut saya muhasabah dalam setahun sekali terlalu lama, bahkan sebulan sekali atau satu minggu sekali pun terlalu lama, untuk itu mari kita berhumhasabah dalam satu hari seklai, sebagaimanan para ulama melakukannya dalam satu sehari yaitu menjelang tidur. Mudah-mudahan kita semua bisa melakukannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...