Anggota Rohis

Dengan Penuh semangat semoga kita semua dapat menjalankan amanah dan tanggung jawab pada Rohis SMA N 1 Demak dengan sebaik-baiknya,
@ROHIS 2011-2012. :)

Idul Adha

Alhamdulillah 2 kerbau dan 1 kambing berhasil di sembelih dan di bagikan kepada warga oleh Rohis SMA N 1 Demak,
Pada Tanggal 10 Dzulhijjah 1433 H/ 6 Nopember 2011.

Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di selenggarakan di mushola pada tanggal 12 rabiul awal.
Acara ini diikuti oleh anak ROHIS dan sebagian siswa - siswi SMA N 1 Demak. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. :)

ROHIS Angkatan 2009-2010

Walaupun badan ini terpisahkan oleh tempat tapi kami tetap akan bersama dalam Perjuangan.

This is featured post 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Tanda Kiamat, Pengkhianatan diberi Amanat

0 komentar

kiamat
Suatu ketika, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda dan didengar oleh Abdullah bin Amru, kata beliau:

“Kiamat tidak akan terjadi sampai merajalelanya omongan kasar dan saling umpat, pemutusan tali rahim serta buruknya hubungan antar tetangga, dan sampai pengkhianat diberi amanat sedang yang terpercaya di anggap pengkhianat.”  (HR. Ahmad)

Prediksi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam akan senantiasa terbukti.  Kalau para shahabat dahulu hanya bisa merasakan kekhawatiran akan munculnya tanda-tanda kiamat, saat ini kita ditakdirkan menjadi generasi umat ini yang menyaksikannya. Omongan kasar dan umpatan, pemutusan silaturahmi dan buruknya hubungan dengan tetangga, gambaran nyatanya dapat kita saksikan setiap hari. Omongan kasar  danmesummenjadi bumbu di setiap obrolan, anak bersengketa dengan bapaknya bahkan tega membunuhnya, ibu-ibu membunuh atau membuang bayinya, individualisme yang semakin parah serta hubungan tetangga yang buruk. Tetangga yang semestinya menjadi ‘saudara dekat’, tak jarang malah jadi rival abadi. Tak pernah rukun meski satu Rukun Tetangga (RT). Kini, fenomena-fenomena buruk semacam itu laksana kawah lumpur yang menyemburkan kotoran ke muka bumi, saban hari.

Ditambah tanda yang terakhir, lumpur-lumpur yang menyembur pun kian pekat warnanya dan makin menusuk baunya. Dari semua fenomena akhir zaman yang disebutkan dalam hadits di atas, sepertinya tanda yang terakhir memiliki dampak paling merugikan, tidak hanya bagi yang melakukan, yang tidak tahu apa-apa pun akan merasakan akibatnya.

“Pengkhianat justru diberi amanat”, kalau yang dimaksud sekadar amanat berupa barang titipan, lalu yang dititipi kabur membawa titipan itu, dampak buruknya tidaklah seberapa. Tapi jika amanat yang dimaksud adalah amanat kepemimpinan dan jabatan, apalagi jabatan dalam skup negara tentu akan lain urusannya. Dampak buruknya akan jauh lebih besar dan mengenai banyak orang. Kalau pejabat tidak amanat dan suka korupsi, rakyat yang tidaktahu apa-apa akan merasakan dampaknya berupa terpuruknya perekonomian.

Imam al Qurthubi dalam kitabnya “at Tadzkirah” menjelaskan:

“Apa yang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam beritakan kepada kita dalam bab ini(hadits ini) dan yang lainnya, dari apa yang telah terjadi dan yang akan datang, kebanyakan di antaranya sudah muncul dan merajalela di tengah manusia. Jabatan diembankan kepada orang yang bukan ahlinya hingga jadilah orang-orang yang memimpin justru manusia-manusia rendahan, orang-orang kelas budak dan manusia-manusia bodoh. Mereka menguasai negeri dan kepemerintahan, dengan itu mereka menumpuk harta dan meninggikan gedung-gedung, sebagaimana yang bisa kita saksikan pada zaman ini. Mereka tidak mau mendengarkan nasihat dan tidak pernah istirahat dari maksiat. Mereka adalah manusia-manusia bisu, tuli dan buta.” (I/726)

Jika pada zaman Imam al Qurthubi saja fenomena ini bisa dirasakan, di zaman ini tentunya jauh lebih nyata wujudnya. Sekarang ini orang begitu mengagungkan demokrasi. Semua orang berhak dan merasa berhak menjadi pemimpin dan pejabat. Kompetensi diri, skill manajemen dan leadership bukanlah syarat penentu terpilihnya seseorang. Lebih-lebih soal apakah mereka adalah orang yang amanah atau tidak, lebih tidak menjadi bahan pertimbangan. Uang dan pengaruhlah yang menjadi juri penentu kemenangan.Yang lebih mampu mencetak banyak pamflet, spanduk, banner, bendera partai, menggelar acara-acara kepartaian dan memberikan sokongan dana, dialah yang berpeluang mendapat kursi jabatan. Atau kalaupun yang menjabat adalah orang yang benar-benar mampu dan bukan yang menyokong dana, kebijakan-kebijakannya pun tidak akan jauh-jauh dari pesanan “orang tua asuh”-nya yang telah mendanai.

Karenanya tidak mengherankan jika setelah menjabat, fokus utamanya bukanlah menunaikan amanah tapi lebih kepada usaha mengembalikan modal yang harus keluar dimasa perjuangan merebut suara. Sekarang, pagelaran drama dengan tema “mengembalikan modal dengan cepat” itu tersaji dalam potongan-potongan berita korupsi, suap dan permainan hukum. Sekian puluh pejabat yang ditangkap karena suap, mata rantai mafia hukum yang menyeret pejabat satu demi satu, korupsi yang dilakukan secara berjamaah dan sistemik membuktikan bahwa mereka adalah “al kha`inun al mu`tamanun” para pengkhianat yang diberi kepercayaan. Selain itu, seperti dikatakan imam al Qurthubi di atas, banyak kegiatan-kegiatan yang tidak penting semisal pembangunan gedung tinggi nan mewah menjadikanpengkhianatan itu kian jelas terpampang diatas lukisan kemiskinan rakyat.

Sebaliknya, “yukhawanul amin” orang-orang yang terpercaya dianggap sebagai pengkhianat. Orang-orang yang jujur dan berusaha amanah, adalah ‘parasit’ dalam sistem yang korup. Perangkap demi perangkap pun akan dipasang guna menjatuhkan mereka dari jabatannya. Apalagi yang berani gembar-gembor menghapus korupsi dan mengambil langkah nyata untuk itu, ancamannya akan lebih besar.

Wallahul musta’an. Inilah realita yang harus kita hadapi. Cukup sulit menjelaskan bagaimana solusi untuk keluar dari masalah ini. Masalah pengkhianatan dalam jabatan bukan problem ringan. Ditambah dengan munculnya berbagai keburukan akhir zaman yang lain, persoalan jadi kian runyam. Ada banyak hal yang harus kita hindari serta waspadai sekaligus menjadi PR bagi kita, dan begitu sedikitnya teman yang bisa menguatkan. Barangkali hanya semangat dan keyakinan untuk tetap menjaga iman serta usaha perbaikan sesuai kemampuanlah yang bisa kita lakukan. Harapannya, kita bisa selamat sampai di penghujung periode hidup yang kita tempuh.Wallahua’lam.

arrisalah.net

Mendahulukan Kewajiban

0 komentar

"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS an-Nahl [16]: 97).

Firman Allah SWT di atas menggambarkan secara jelas bahwa Islam adalah ajaran yang mengutamakan dan mendahulukan pelaksanaan dan pemenuhan kewajiban. Barulah kemudian menerima dan mendapatkan haknya sebagai balasan dari amal perbuatannya tersebut. Dan, bukan sebaliknya.

Setiap orang yang melaksanakan kewajiban, cepat atau lambat, baik langsung maupun tidak langsung, pasti akan mendapatkan haknya. Tetapi, tidak setiap orang yang menuntut hak dapat melaksanakan kewajibannya dengan baik. Allah SWT berfirman dalam ayat yang lain, yaitu QS an-Najm [53] ayat 39, "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."
  
Sebagai contoh, sebuah rumah tangga akan menjadi keluarga yang bahagia manakala pasangan suami istri melaksanakan kewajibannya masing-masing dengan baik dan bukan saling menuntut hak. Alquran surah an-Nisa [4] ayat 34 menggambarkan bahwa kewajiban suami dan istri itu ada dua.

Kewajiban suami adalah mendidik, membimbing, mengayomi istri serta anaknya (qowwaamun), dan mencari nafkah untuk kepentingan keluarganya. Sedangkan kewajiban istri yang pertama adalah tunduk dan patuh kepada suaminya atas dasar kepatuhan dan ketundukan pada Allah SWT. Kewajiban kedua, menjaga diri dan kehormatannya serta kehormatan keluarganya.

Seorang pemimpin pun memiliki kewajiban untuk berlaku adil dan berpihak kepada masyarakat dan rakyatnya sehingga masyarakat terlindungi dan tersejahterakan dengan baik. Bukan sebaliknya, hidup dengan fasilitas yang berlebih-lebihan, tetapi tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kisah kepemimpinan para khalifah setelah wafatnya Rasulullah SAW dan juga Khalifah Umar bin Abdul Azis, mencerminkan bahwa mereka adalah pemimpin yang melaksanakan kewajiban secara maksimal. Mereka sama sekali tidak pernah menuntut haknya sehingga rakyatnya sangat tunduk dan patuh serta merasa bahagia dengan kepemimpinan mereka.

Di tengah-tengah keinginan yang kuat dari setiap orang untuk mendapatkan jabatan, upaya menyadarkan pada tugas dan tanggung jawab jauh lebih penting daripada membicarakan fasilitas-fasilitas tertentu, yang kadang kala tidak berkaitan secara langsung dengan pelaksanaan kewajibannya.

Mudah-mudahan, ini semuanya akan mencerahkan masyarakat bahwa jabatan itu hakikatnya adalah pemenuhan kewajiban dan bukannya penuntutan atau pemberian fasilitas semata-mata. Wallahu a'lam.

www.republika.co.id

Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

0 komentar

Bismillahirrahmanirrahiim, sahabat saya ingin sharing artikel atau sebuah pertanyaan dari arrisalah.net, mudah-mudahan bisa memberikan pencerahan atau bisa menjadikan pertimbangan.

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Apakah termasuk sunnah Nabi mengangkat kedua tangan bagi khotib dan makmum ketika mengamini doa pada khutbah jum’at, bolehkah mengucapkan aminya denga suara yang keras, bersama-sama dan bolehkah menjawab orang yang bersin dengan yarhamukallah ketika khatib sedang berkhutbah?Syukran.

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Di masyru’kan bagi khotib untuk berdoa di akhir khutbahnya dengan cara mengisyaratkan dengan jari telunjuknya saja dan tidak mengangkat kedua tangannya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shahihnya :

Dari Umarah bin Ru`aibah radiyallahu ‘anhu bahwa suatu ketika ia melihat Bisyra bin Marwan (penguasa irak) mengangkat kedua tangannya di atas mimbar, maka ia pun berkata; Semoga Allah menjelekkan kedua tangan ini. Sungguh, saya telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak memberikan isyarat dengan tangannya kecuali seperti ini -ia pun memberi isyarat dengan jari telunjuknya-. (HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bekata : dimakruhkan bagi seorang imam untuk mengangkat kedua tangannya ketika berdoa pada khutbah jum’at, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam hanya berisyarat dengan jari telunjuknya.

Adapun makmum yang mendengar doa diakhir khutbah jum’at dimasyru’kan untuk mengamininya dan para ulama tidak berbeda pendapat dalam masalah ini, tetapi ada perbedaan pada tata caranya, apakah lirih (sirr), terdengar (jahr) suara aminnya atau bahkan di batin. Imam Malik dan Imam Ahmad (syarh muntaha al irodat 1/323) berpendapat sirr, imam syafi’i berpendapat terdengar tanpa meninggikan/mengangkat suara dan imam Abu hanifah berpendapat amin di dalam hati. Dan yang kuat pendapatnya –wallahua’lam- adalah mengamini dengan pelan tidak mengangkat suara dengan keras serta tidak bersama-sama dalam mengamininya.(dr.abdullah faqih, fatwa syabakah islamiyah)

Dalam tata cara doa pada khutbah jum’at, makmum tidak disyari’atkan untuk mengangkat kedua tangannya ketika mengamini doa khatib jum’at, karena ketiadaan dalil dan contoh dari sahabat. Kalaulah sahabat pada waktu itu mengangkat tangan tentulah telah ada khabar/hadits akan hal itu.

Tidak disyariatkan pula bagi makmum untuk menjawab orang yang bersin –yang mengucapkan alhamdulillah- dengan jawaban yarhamukallah, karena terdapat hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila kamu berkata kepada temanmu, ‘Diamlah, ‘ pada hari jum’at padahal Imam sedang berkhutbah, maka sungguh telah sia-sialah ibadah Jum’atmu.”(HR. Muslim)

Wallahua’lam bis shawab. (Maraji’ : Irsyadus Salikin ila Akhtoil Mushollin, Mahmud Mashry,  Akhtoul Mushollin, Al Walid Bin Muhammad, Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah)

sumber : arrisalah.net

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...