Anggota Rohis

Dengan Penuh semangat semoga kita semua dapat menjalankan amanah dan tanggung jawab pada Rohis SMA N 1 Demak dengan sebaik-baiknya,
@ROHIS 2011-2012. :)

Idul Adha

Alhamdulillah 2 kerbau dan 1 kambing berhasil di sembelih dan di bagikan kepada warga oleh Rohis SMA N 1 Demak,
Pada Tanggal 10 Dzulhijjah 1433 H/ 6 Nopember 2011.

Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di selenggarakan di mushola pada tanggal 12 rabiul awal.
Acara ini diikuti oleh anak ROHIS dan sebagian siswa - siswi SMA N 1 Demak. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. :)

ROHIS Angkatan 2009-2010

Walaupun badan ini terpisahkan oleh tempat tapi kami tetap akan bersama dalam Perjuangan.

This is featured post 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Peringatan, bukan hinaan

0 komentar

“Sepeninggalku, tidak aku tinggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya untuk lelaki melebihi wanita.”(Mutafaq ‘alaih) “Wanita itu kurang agamanya.” “Kebanyakan penduduk neraka adalah wanita.” (al Hadits)

Jika dibaca dengan kacamata buram milik orientalis dan kaum liberal, mungkin yang bakal tampak dari petikan hadits di atas adalah “Islam merendahkan kaum perempuan. Hadits-hadits ini mestinya dinonaktifkan dari fungsinya sebagai dalil karena sudah tidak sesuai dengan jaman. Jika tidak, Islam bisa tercoreng namanya karena masih saja mendeskreditkan perempuan, padahal di zaman sekarang persamaan gender telah menjadi tuntutan.”

Tapi kacamata seorang muslimah, wanita yang berserah diri kepada syariat-Nya, tentunya tidak demikian. Imannya akan membuat lensanya lebih jernih dalam membaca dan menyelami isi dari setiap kata yang disabdakan utusan-Nya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Pandangannya akan lebih dalam menembus sampai ke dasar hikmah. Ada ‘material’ husnudzan, rasa berserah diri dan keyakinan bahwa sabda Rasul n adalah al haq, yang menyusun potongan kaca yang dipakainya. Dan inilah yang membuat objek yang tampil di retina hatinya berwujud sempurna, tidak terbalik dan indah sebagaimana mestinya.

Oleh karenanya, image yang ditangkap dari hadits-hadits seperti di atas bukanlah “Islam mendeskreditkan wanita”. Sama sekali bukan. Tapi yang tampak justru ke dalaman rahmat dari sang pencipta kepada kaum Hawa. Sabda baginda itu diterima sebagai pemberitahuan dan peringatan atas sisi lemah wanita yang sangat krusial. Kelemahan pada wanita yang harus diwaspadai atau ditambal dengan sisi kelebihan yang lain. Bukankah semua makhluk memang dicipta memiliki kelemahan?

Wanita itu fitnah atau godaan yang sangat besar bagi kaum lelaki. Terhadap hadits ini, seorang muslimah tidak akan bersu’udzan bahwa Islam menganggap wanita hanyalah makhluk penggoda dan pengganggu bagi lelaki. Tidak. Sabda ini akan dipahami sebagai peringatan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa potensi fitnah (godaan) dalam diri wanita sangatlah besar. Karenanya wanita pun akan sadar dan waspada lalu menjaga agar potensi itu tidak menyelinap keluar atau bahkan meledak.  Wanita memang ditakdirkan untuk memiliki daya tarik yang menggoda itu, tapi di sisi lain, wanita juga diwajibkan menjaganya.Nah, Islam pun memberikan cara bagaimana menjaga diri agar potensi itu tidak keluar. Ada jurus menjaga aurat, menundukkan pandangan, menjaga hubungan dengan lelaki, menghindari make up berlebihan dan sebagainya. Dengan mengaplikasikan jurus-jurus ini, yang akan merasa aman bukan hanya lelaki saja tapi juga wanita.

Kalau direnungkan secara mendalam, hadits ini bukan hanya peringatan bagi lelaki, tapi juga wanita. Memang, yang terkena dampak fitnah wanita secara langsung adalah lelaki. Hanya saja dalam beberapa kondisi, fitnah wanita yang dibiarkan terumbar liar juga akan berimplikasi buruk terhadap sesama wanita.

Ambil contoh, saat anda sedang bersama suami, tiba-tiba datang atau lewat seorang wanita yang membiarkan dua biji ‘kamera’ di kepala lelaki yang menatapnya bebas menelusuri kulit kakinya hingga 50 % di atas lutut, atau kulit lehernya hingga 50 % ke dadanya. Itu fitnah yang diumbar. Dan fitnah itu jelas ditujukan kepada lelaki. Tapi apa yang anda rasakan jika suami anda melirik? Sakit bukan? Lebih menyakitkan lagi jika kulit si wanita itu lebih bagus dari milik anda. Bahkan wanita bercelana jins dan berkaus ketat yang tengah bersama pacarnya di sebelah sana pun –misalnya ada-, boleh jadi akan mencubit pacarnya, sambil pasang muka cemberut lagi mengancam jika pacarnya ikut-ikutan melirik. Apa lagi jika masalahnya bukan sekadar melirik, selingkuh misalnya, tentu akan lebih menyakitkan lagi. Jadi, wanita juga akan terganggu dengan fitnah wanita yang tidak dijaga.

Nah, coba bandingkan jika yang hadir adalah seorang wanita berjilbab rapi dengan warna kain yang tidak mencolok, atau bahkan memaki cadar misalnya. Adem. Anda, suami anda dan juga semua orang di sekeliling anda akan merasakannya. Jadi, pada dasarnya sabda Rasul n di atas adalah peringatan untuk wanita dari bahaya fitnah wanita yang juga akan berdampak kepada wanita.

Soal status wanita yang diennya disebut “kurang” dan menjadi mayoritas ahli neraka, Rasulullah ingin memberi peringatan pada sisi lemah wanita dalam hal ini. Wanita secara kodrati mendapatkan haid dan menghalanginya dari ibadah selama sekian waktu. Ini kelemahan. Dengan menyadari hal ini, wanita diharapkan dapat memanfaatkan dan mengoptimalkan sisi-sisi lebih yang diberikan kepadanya untuk meningkatkan value(nilai) dirinya. Semangat inilah yang akan muncul dalam diri muslimah dan bukan perasaan kecewa karena menganggap Islam menganak tirikan wanita. Dan bukankah pada tataran praktis, tidak sedikit kaum wanita yang kualitas diennya jauh lebih baik dari lelaki?

Kalau ternyata rasul mengatakan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka, itu berarti Beliau ingin menyampaikan bahwa realitanya kebanyakan wanita tidak mengikuti bimbingan rel syariat. Karena jika patuh pada syariat, dia akan masuk jannah. Bahkan ratunya para bidadari surga adalah wanita-wanita shalihah yang masuh jannah. Oleh karenanya, kalau tidak ingin merasa tersinggung dengan hadits ini, caranya mudah yaitu dengan menjadi wanita shalihah.

Kesimpulannya, saat membaca hadits-hadits semacam ini yang harus dikedepankan adalah iman. Para shahabiyah dulu tidak pernah komplain dengan hadits-hadits di atas dan menganggapnya sebagai diskriminasi terhadap kaum perempuan. Keyakinan mereka bahwa sabda Nabi adalah bimbingan ilahi memudahkan hati mereka menerima dan mencoba mendulang hikmahnya. Jangan terkecoh dengan bualan kaum liberal, mereka hanya ingin agar kita menentang syariat, merasa punya dalil saat bermaksiat dan akhirnya celaka di akhirat.Wallahua’lam.

arrisalah.net

Peduli Sesama

0 komentar

Sebuah kisah disampaikan Abu Khubaisy kepada murid-muridnya. Suatu hari Abdullah bin Umar, khalifah yang terkenal sebagai pembangun Bait al Maqdis, terserang penyakit. Para asistennya sangat mengkhawatirkan umur khalifah karena penyakitnya itu. Ternyata, Allah SWT belum berkenan memanggil Abdullah ke haribaan-Nya. Khalifah berangsur-angsur pulih.

Setelah kondisi kesehatannya membaik, sang khalifah berkeinginan untuk menyantap ikan panggang. Mendengar keinginan itu, para pembantunya langsung mencari ikan dan memanggangnya. Hidangan ikan panggang yang aromanya begitu memikat meningkatkan selera makan khalifah. Ia ingin segera menyantapnya.

Pada saat khalifah akan memulai makan, tiba-tiba muncul seorang musafir yang tampak sangat kelaparan. Serta-merta, Khalifah Abdullah bin Umar menyuruh pembantunya segera mengangkat hidangan yang ada di hadapannya dan memberikannya kepada si musafir. Perintah itu membuat para pembantunya protes sebab merasa jerih payahnya tak dinikmati khalifah.

Mereka keberatan kalau makanan tersebut diberikan kepada musafir tadi. "Hidangan ini dengan sengaja kami buatkan untuk tuan dan sesuai dengan pesanan tuan. Namun, mengapa diberikan kepada musafir itu?" Khalifah menyampaikan penjelasan kepada pembantunya mengapa ia urung menyantap hidangan itu.

"Wahai pembantuku, tahukah kamu bila aku memakan makanan ini, maka sebetulnya itu aku lakukan karena aku menginginkan dan menyukainya. Tetapi, bila musafir itu memakannya, itu karena ia benar-benar membutuhkannya. Jadi, sesungguhnya makanan itu lebih berharga bagi dia daripada untukku," katanya.

Khalifah kemudian menyampaikan firman Allah, "Kalian sekali-kali tidaklah memperoleh kebajikan sehingga kalian menyedekahkan apa-apa yang kalian senangi." Kisah di atas sejatinya mengandung hikmah tertinggi di mana seharusnya kita memiliki rasa peduli terhadap sesama apalagi dalam situasi darurat dan mendesak.

Di dalam kehidupan sehari-hari, terdapat perilaku kurang baik yang sering dilakukan oleh sebagian besar kita. Perilaku itu adalah mendahulukan kepentingan pribadi daripada kepentingan orang lain alias kurang peduli sesama. Kadang kala kita sulit untuk berkorban demi orang lain, walau dalam kondisi darurat sekalipun.

Sulit sekali menemukan pribadi-pribadi yang dipenuhi rasa simpati dan empati kepada orang lain. Yang ada malah sifat arogansi individualisme yang merajalela dalam lubuk sanubari setiap manusia. Padahal, kepedulian terhadap sesama akan membawa manfaat dan maslahat besar bagi kita semua. Semoga teladan ini dapat menjadi inspirasi agar kita menjadi manusia yang lebih baik.

www.republika.co.id

Tiga Keutamaan Ibu

0 komentar

"…Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya . Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS al-Israa' [17]: 23).

Allah mengajarkan kepada kita agar berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Untuk mengatakan kepada keduanya "ah" ( perkataan yang dapat menyakiti hati keduanya ) saja kita tidak diperkenankan apalagi yang lebih dari itu. Pernah suatu ketika datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw, ia bertanya kepada Rasulullah saw," Ya Rasulullah, siapa dari manusia yang paling berhak aku utamakan? Rasulullah saw bersabda "Ibumu". Laki-laki tersebut bertanya kembali, "kemudian siapa lagi?" Rasulullah saw bersabda, "kemudian ibumu". Laki-laki tersebut betanya kembali, "kemudian siapa lagi?" Rasulullah bersabda, "kemudian ibumu". "Kemudian siapa lagi?" Rasulullah bersabda, "kemudian ayahmu". (HR Muslim ).

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya "Al-Jami'ul Al-Ahkamil Qur'an" mangatakan bahwasanya hadits tersebut menunjukan tiga kecintaan dan pengorbanan seorang ibu. Ketiga perakara itu, pertama adalah pengorbanan seorang ibu ketika dalam keadaan hamil, kedua adalah pengorbanan ketika melahirkan, dan ketika adalah pengorbanan ketika menyusui serta mendidik anak. Ketiga perkara tersebut dilakukannya seorang diri.

Perkara pertama, hamilnya seorang ibu. Saat seorang ibu hamil tubuhnya menjadi rentan akan 'bahaya'. Berat tubuhnya menjadi dua kali lipat, karena memebawa kita di dalam rahimnya. Hal itu berlangsung kurang lebih selama Sembilan bulan. Kecintaannya kepada kita telah dicurahkannya sejak saat itu, ia selalu mendahulukan keselamatan bayinya daripada dirinya sendiri. Ia tidak pedulikan berat beban tubuhnya yang bertambah karena kehdiran kita di rahimnya.

Perkara kedua, saat ibu melahirkan. Saat-saat inilah yang dinantikan oleh seorang ibu. Saat dimana ia dapat melihat buah hatinya setelah selama kurang lebih sembilan bulan mengandungnya. Namun saat-saat ini juga merupakan saat-saat yang paling beresiko tinggi dalam hidupnya. Karena melahirkan rentan sekali dengan kematian. Tak sedikit ibu yang rela mengorbankan nyawanya demi lahirnya sang buah hati.

Perakara ketiga, saat menyusui dan mendidik. Setelah melewati masa-masa kritis ketika melahirkan. Tugas seorang ibu tidak lantas selesai begitu saja. Ia haruslah menyusui bayinya sebagai makanan pertama si bayi. Dalam benaknya hanya ada bagaimana agar bayinya tumbuh sehat. Paling tidak kebutuhan jasadiahnya terpenuhi. Setelah lewat masa menyusi dan bayinya tumbuh dewasa ia harus mendidiknya agar kelak menjadi anak yang soleh dan solehah. Mendidik dengan cinta kasih dan kesabaran yang bagai sang surya menyinari dunia.

Ketiga perkara tersebut yang menjadikan seorang ibu mempunyai tiga keutamaan daripada seorang ayah. Dan ketiga perkara tersebut tidak pernah bisa kita balas sepanjang hayat kita walaupun dengan emas permata seluruh dunia. Wallahu 'alam bi showab

www.republika.co.id

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...